Home » , » Tanah Itu Menimbun Desa Banaran, Ponorogo

Tanah Itu Menimbun Desa Banaran, Ponorogo

Written By KLIK MADIUN on Selasa, 11 April 2017 | 09.34



KlikMadiun-Ponorogo - Suasana Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang biasanya tenang berubah panik. Tanah dengan volume 1 juta meter kubik terjun bebas dari bukit yang diberi nama Gunung Gede, Sabtu pagi, 1 April 2017.

Sebanyak 28 warga Dusun Tangkil desa setempat tertimbun material longsor dengan ketebalan mencapai 50 meter, luas 12,2 hektare,  dan panjang 1,1 kilometer. Sebagian para korban itu sedang memanen jahe gajah di lereng bukit.

 Sedangkan lainnya tengah beraktivitas di dalam rumah yang ikut diterjang material longsor. Puluhan orang itu terkubur hidup-hidup. Sementara, warga lain yang melihat tanah bergerak laksana banjir itu berlari tunggang langgang.

 “Yang ada dalam pikiran saya hanya ingin selamat,” kata Sutini, 45 tahun, warga Dusun Tangkil, Jumat, 7 April 2017. Dia berhasil menyelamatkan diri meski tanah longsor nyaris menimbunnya.

Tubuhnya lemas. Ia bersyukur terbebas dari bencana yang bisa menewaskannya. Namun, Sutini juga syok dan hatinya terpukul. Kateno, 50 tahun, suaminya terkubur longsor ketika hendak mencari rumput untuk sapi peliharaannya.

 Sutini mengisahkan, bencana itu terjadi beberapa saat ketika suaminya selesai sarapan. Sebelumnya, Kateno meminta istrinya menggoreng gaplek yang tidak habis dimakan pada Jumat malam, 31 Maret 2017. Masakan itu buatan terakhir Sutini bagi suaminya.



 “Selesai makan dia (Kateno) berangkat dengan naik motor. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan hanya dalam tiga detik longsor datang,’’ ujar Sutini. “Suami saya berjalan mela5wan longsor,”.

 Ketika mendengar gemuruh, Sutini langsung keluar rumah dan berlari ke tempat aman. Kala itu, ia melihat juga mendengar teriakan histeris warga yang tinggal di lokasi aman, yakni dusun lain di atas lokasi bencana.

Beberapa saat kemudian, Sutini bersama sejumlah warga lain yang selamat mengungsi. Ada juga dari mereka yang dibawa ke puskesmas lantaran mengalami luka-luka ketika bencana terjadi. Warga hiruk pikuk.

 Informasi bencana itu menyebar. Petugas dari lintas instansi datang. Lebh dari 1.600 personel bergabung dalam tim SAR yang antara lain dari Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana, TNI Angkatan Darat, Kepolisian, dan relawan.

 Sejumlah kendaraan berat didatangkan. Namun, proses pencarian 28 korban yang tertimbun longsor baru dijalankan keesokan harinya, Ahad, 2 April 2017. Pada hari itu, 2 jenazah berhasil dievakuasi.

 Mereka adalah Katemi, 70 tahun dan cucunya, Iwan Danang Suwanti, 30 tahun. Keduanya ditemukan di antara timbunan material bangunan rumah dan tanah. Sehari kemudian, tim SAR gabungan menemukan jenazah Sunadi, 47 tahun. Korban keempat yang berhasil ditemukan adalah Sumaryono, 25 tahun dievakuasi pada Ahad pagi.

 Sumaryono merupakan korban tertimbun longsor yang terakhir ditemukan. Beberapa saat setelah tubuh pemuda itu dievakuasi, longsor susulan terjadi di lokasi bencana. Tim SAR gabungan menghentikan proses pencarian 24 korban lain dengan pertimbangan keselamatan tim SAR maupun relawan.

 Peristiwa itu juga dinilai berbahaya bagi keselamatan warga. Karena itu, warga Dusun Krajan, Desa Banaran diungsikan ke Desa Wagir Kidul untuk menghindari jatuhnya korban lagi.

"Warga yang berada pada radius 1 kilometer dari sektor D diungsikan. Kalau untuk warga Dusun Tangkil yang telah mengungsi tidak terganggu akibat longsor susulan ini dan mereka aman," kata Kapolres Ponorogo AKBP Suryo Sudarmadi.

Wakil Bupati Ponorogo Soedjarno meminta keluarga 24 korban menerima keputusan tentang dihentikannya proses evakuasi bencana itu pada Ahad, 9 April 2017. “Korban yang tidak berhasil ditemukan agar diikhlaskan,’’ kata dia.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Ponorogo, Sumani, menjelaskan penyebab longsor susulan itu akibat tingginya debit air yang disemprotkan untuk membantu proses evakuasi sejak bencana terjadi, Sabtu, 1 April 2017.

 Tanah yang memiliki sifat lembek dan bercampur dengan pasir di sektor A hingga D lokasi bencana akhirnya ambles. “Tipe tanah di Banaran termasuk mudah menggelincir ketika terbebani air. Kemudian (tanah) sektor A mendesak B, C hingga D,’’ia menjelaskan.

Sehari pascadihentikannya proses evakuasi korban, tim Basarnas menarik diri. Sebab, tugas mereka telah rampung. “Karena tugas pencarian dan pertolongan (korban manusia) sudah selesai,” ujar Koordinator Pos SAR Trenggalek, Asnawi Suroso. Ketika masa evakuasi berlangsung dia menjabat sebagai Koordinator SAR dan Evakuasi Penanganan Musibah Tanah Longsor Ponorogo.

 Sementara, pihak pemkab setempat fokus menyelesaikan pembangunan rumah penampungan sementara bagi 200-an warga yang mengungsi. Kediaman darurat itu bakal ditempati 19 kepala keluarga. Selain itu, upaya normalisasi pascabencana bakal dilakukan ketika situasi sudah memungkinkan. (klik-4)

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Sponsor 2

Sponsor 2

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2016. KLIK MADIUN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by AGEE Computer
Proudly powered by google