Surabaya, klikmadiun.com – Sosok IPDA Purnomo, yang dikenal dengan julukan “Polisi Belajar Baik”, menyimpan kisah perjuangan hidup yang tidak mudah. Di balik seragamnya sebagai anggota kepolisian, tersimpan pengalaman pahit tentang kemiskinan dan lilitan utang di masa lalu.
Lulusan Magister Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Dr. Soetomo ini kini dikenal luas karena kepeduliannya terhadap sesama. Ia aktif merawat ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta warga telantar melalui yayasan yang ia dirikan.
Momen kelulusannya yang digelar di Dyandra Convention Center pada Minggu, 26 April 2026, menjadi salah satu pencapaian penting dalam hidupnya.Namun, perjalanan menuju titik tersebut penuh dengan perjuangan.
Saat masih sekolah, Purnomo harus membantu ibunya berjualan di warung kopi. Waktu bermain seperti teman-teman seusianya harus ia relakan demi membantu ekonomi keluarga.
"Jujur, saya dulu utangnya banyak. Di saat teman-teman bisa sekolah senang, saya harus bantu Ibu jualan kopi. Sebelum berangkat sekolah, wajib bantu dulu. Pulang sekolah pun saya sibuk di belakang warung, cuci piring, sementara teman-teman mengolok saya karena tidak pernah keluar rumah," kenang Purnomo emosional.
Pengalaman hidup tersebut meninggalkan kesan mendalam, terutama saat melihat orang tuanya harus berjuang dengan utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situlah muncul tekad dalam dirinya untuk membantu orang lain di kemudian hari.
Menjadi polisi bukanlah cita-cita awal Purnomo. Ia sempat bercita-cita menjadi kiai, namun perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Pada akhir 1990-an, ia merantau ke Surabaya dan berjualan soto untuk bertahan hidup.
"Saya sempat jualan soto di Surabaya sekitar satu setengah tahun, sekitar tahun 1999 sampai 2000. Setiap minggu saya pulang hanya bisa memberi uang 20.000 sampai 40.000 ribu rupiah untuk Ibu," tuturnya.
Kesempatan menjadi anggota kepolisian datang setelah mendapat informasi dari keluarganya. Ia pun mengikuti seleksi dengan penuh keyakinan dan doa.
Saat mendaftar menjadi polisi, Purnomo membuat janji pribadi untuk menyisihkan sebagian penghasilannya bagi kegiatan sosial jika ia diterima. Janji tersebut ia pegang hingga sekarang.
Komitmennya itu terlihat dari berbagai aksi kemanusiaan yang ia lakukan, termasuk merawat ODGJ, anak jalanan, dan warga telantar.
Saat ini, Purnomo tidak hanya menjalankan tugas sebagai aparat, tetapi juga fokus pada kegiatan sosial. Ia tengah mempersiapkan pembangunan fasilitas yang lebih layak bagi mereka yang membutuhkan.
"Di usia 40 ini, kita harus tahu arah mana yang akan kita tuju. Allah sudah beri kecukupan, sekarang saatnya saya lebih fokus beribadah dan menjadi manfaat bagi lingkungan," pungkasnya.
Kisah IPDA Purnomo menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih masa depan. Justru dari pengalaman sulit itulah lahir kepedulian untuk membantu sesama.
Penulis : Dewi
Editor : Redaksi

Posting Komentar