Kabupaten Madiun, klikmadiun.com – Belum usai menjadi pembicaraan hangat terkait sejumlah persoalan manajemen yang tengah ditangani Polres Madiun dan Inspektorat Jawa Timur, SMAN 1 Mejayan kini kembali menuai kontroversi. Sekolah tersebut dikabarkan tengah mempersiapkan kegiatan Study Tour bertajuk Outing Class ke Bali yang memicu tanda tanya di kalangan orang tua siswa.
Sebelumnya, SMAN 1 Mejayan sempat disorot akibat berbagai masalah, mulai dari pungutan pembangunan parkir yang mangkrak, protes orang tua terkait pungutan komite, biaya HUT sekolah, hingga insiden dugaan penganiayaan antar pelajar yang pelakunya anak salah seorang Wakasek di sekolah tersebut. Kini, rencana perjalanan ke Bali menjadi babak baru dalam polemik di SMAN 1 Mejayan.
Salah seorang perwakilan orang tua siswa yang hadir dalam pertemuan di sekolah mengungkapkan keberatannya. Ia menyebutkan bahwa pihak sekolah telah mengundang perwakilan orang tua untuk membahas rencana biaya rekreasi tersebut.
"Pertemuan itu membahas biaya rekreasi ke Bali. Awalnya informasi yang sampai ke anak-anak biayanya Rp 1,9 juta, tapi kemudian menjadi Rp 1,8 juta. Yang kami rasa aneh, biro perjalanan saja belum masuk memberikan penawaran, tapi sekolah sudah berani mematok harga. Ada apa sebenarnya?" ungkapnya, Minggu (25/10/2026).
Kepala Sekolah SMAN 1 Mejayan Bantah Penetapan Harga
Menanggapi kabar yang beredar, Kepala SMAN 1 Mejayan Didik Anang Sunarto, M.Pd memberikan klarifikasi dan menyatakan bahwa informasi mengenai penetapan harga tersebut tidak benar, tetapi pihaknya membenarkan adanya undangan pertemuan perwakilan orang tua dengan pihak sekolah.
Didik menegaskan bahwa pihak sekolah belum menentukan besaran biaya apapun.
"Informasi itu salah. Sekolah belum menetapkan besarannya berapa. Pertemuan kemarin dilakukan untuk berdiskusi dengan orang tua mengenai keinginan murid kelas 11 untuk mengadakan studi kampus dan budaya ke Bali," jelas Kepala Sekolah.
Menurutnya, pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari rapat pengurus OSIS dan MPK. Pihak sekolah mengundang orang tua hanya untuk memberikan informasi dan mengonfirmasi aspirasi para siswa.
"Kami baru tahap awal untuk menanyakan apakah orang tua setuju atau tidak. Jika orang tua setuju, barulah kami akan mengundang pihak biro perjalanan. Jadi, belum ada kesepakatan harga karena sekolah memang belum menetapkannya," pungkasnya melalui sambungan telepon, Kamis (29/10/2026).
Dengan munculnya permasalahan baru ini, maka kekhawatiran orang tua perlu dipahami oleh semua pihak, dimana hal ini didasari oleh situasi ekonomi yang sedang sulit. Mereka berharap pihak sekolah lebih bijaksana dalam memposisikan diri sebagai lembaga pendidikan dan terbuka agar polemik pungutan yang memberatkan tidak terulang kembali, jangan sampai justru membuat langkah baru yang kurang tepat dengan menyerahkan seluruh keputusan kepada siswa.
Sebagai perbandingan, langkah SMAN 1 Mejayan ini kontras dengan kebijakan di daerah lain, seperti Jawa Barat dan Surabaya, di mana Kepala Daerah secara tegas melarang kegiatan Study Tour ke luar kota demi menghindari praktik bisnis di lingkungan sekolah.
Penulis. : PA
Editor. : Redaksi

Posting Komentar