PSHWTM Mendunia, "The Spirit of Mataraman" Tampil Memukau Di Festival Internasion Di Eropa.

Foto : Kemendikbud Fadli Zon membuka acaraCulture & Heritage Festival di Amersfoort, Belanda

Eropa Belanda. Klik Madiun.com - Pencak Silat Madiun Pukau Publik Belanda, PSHWTM Bawa "The Spirit of Mataraman" ke Festival Internasional Pertama di Eropa.

Dua sanggar binaan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda Madiun menampilkan jurus solo hingga permainan keris, karambit, celurit, pecut, trisula, dan selendang, serta penyerahkan buku "Pusaka Pencak Silat Dalam Tiga Zaman" kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Keberangkatan delegasi didukung Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya, MIND ID, dan Pemerintah Kabupaten Madiun. MADIUN, JAWA TIMUR (13/10/2026).



Enam pesilat dan seniman asal Madiun membawa nama Jawa Timur ke panggung internasional melalui 1st International Pencak Silat Culture & Heritage Festival di Amersfoort, Belanda. Festival yang dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon pada Sabtu (10/10/2026) itu menempatkan Madiun, daerah yang dikenal sebagai Kampung Pesilat, sejajar dengan tradisi pencak silat besar Nusantara lainnya di hadapan publik Eropa.



Delegasi Madiun merupakan kolaborasi dua sanggar binaan Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Madiun, yakni Sanggar Seni Pencak Silat Satria Krida Manggala dari Kabupaten Madiun dan Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso dari Kota Madiun. Keberangkatan ini merupakan jawaban atas undangan resmi Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) kepada Sanggar Satria Krida Manggala. Meski berasal dari dua wilayah administratif berbeda, kedua sanggar berangkat sebagai satu delegasi dengan akar pakem yang sama.



Keberangkatan dan seluruh kegiatan delegasi PSHWTM dikoordinasikan dan dipimpin oleh Joened Agung Sumarwan dari Naine Visual Productions, dibantu Wenik Rahayu. Joened juga memimpin dan mengoordinasikan tim Harimau Singgalang dari Bukittinggi, Sumatera Barat, sekaligus bertindak sebagai Ketua Koordinator seluruh delegasi Indonesia.




Festival ini diselenggarakan oleh NPSF, federasi resmi pencak silat di Belanda, dengan puncak acara pada 10-11 Oktober 2026 di De Bron, Amersfoort, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung 8-12 Oktober 2026. Selain Menteri Kebudayaan, festival turut dihadiri Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda L. Amrih Jinangkung dan Presiden NPSF Olivier Blancquaert. Kegiatan diisi pertunjukan budaya, demonstrasi, lokakarya, dan kelas pelatihan yang mempertemukan maestro dan praktisi pencak silat Indonesia dengan komunitas pesilat di Eropa.



Pertunjukan festival diisi oleh 15 penampil dari Eropa dan Indonesia. Penampil Eropa sebagian besar berasal dari Belanda dan Italia, ditambah penampil dari Prancis. Dari Indonesia, tampil tiga delegasi pencak silat, yaitu Panglipur dari Jawa Barat, Harimau Singgalang dari Sumatera Barat, serta PSHWTM Madiun sebagai satu-satunya wakil dari Jawa Timur.

"The Spirit of Mataraman" di Panggung Eropa.



Di Amersfoort, delegasi Madiun membawakan repertoar bertajuk "The Spirit of Mataraman: Pencak Silat from Madiun". Sajian ini mengangkat karakter pencak silat khas Mataraman yang tegas, santun, dan berakar pada nilai persaudaraan, dengan memadukan gerak silat, tari, dan iringan musik tradisi dalam satu kesatuan pertunjukan.



PSHWTM menampilkan pencak silat dalam beragam bentuk, mulai dari peragaan jurus solo hingga permainan senjata. Deretan senjata yang dimainkan antara lain keris, karambit, celurit, pecut, dan trisula. Selendang pun ikut ditampilkan sebagai bagian dari peragaan. Seluruhnya dibawakan dengan gaya khas PSHWTM yang berkarakter kuat kedaerahan Jawa Timur.



Penampilan PSHWTM dibawakan oleh Bayu Supriyanto, Najih Khoerul Umam, dan Kansya Dyah Puspitasari. Pada segmen workshop, Suyanto, budayawan sekaligus saudara tua PSHWTM dari Bojonegoro, memberikan pemaparan kepada peserta mengenai pencak silat Mataraman di lingkungan PSHWTM, mulai dari karakter geraknya hingga nilai-nilai yang melandasinya. Yang dibawa delegasi bukan sekadar pertunjukan, melainkan juga syiar ajaran PSHWTM yang memandang pencak silat sebagai laku yang adiluhung dan edipeni, luhur nilainya dan indah wujudnya. Dalam pandangan ini, pencak silat bukan hanya olah tubuh, tetapi juga olah jiwa dan pikiran manusia seutuhnya dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai keyakinan agama masing-masing. Prinsip itu diterjemahkan sanggar-sanggar binaan PSHWTM ke dalam pembinaan sehari-hari dengan melatih pesilat, penari, dan pemusik tradisi secara bersamaan.



Harimau Singgalang dan Sambutan Audiens


Tim Harimau Singgalang dari Bukittinggi, yang juga berada di bawah koordinasi Joened Agung Sumarwan, menampilkan Silek Abayang dan Silek Sinua, dua ragam silek khas Minangkabau.



Penampilan kedua kelompok memukau dan menghibur seluruh audiens, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon beserta jajaran Kementerian Kebudayaan, serta Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda L. Amrih Jinangkung beserta jajaran KBRI Den Haag.



Buku Pusaka dan Batik Winongo untuk Menteri Kebudayaan


Dalam rangkaian festival, delegasi PSHWTM menyerahkan buku "Pusaka Pencak Silat Dalam Tiga Zaman" kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai cenderamata resmi. Buku terbitan PSHWTM Madiun ini memuat sejarah dan khazanah pencak silat Indonesia serta ajaran PSHWTM.

Penyerahan buku tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi PSHWTM. Melalui buku ini, PSHWTM berharap dikenal tidak hanya lewat penampilannya di atas panggung, tetapi juga lewat keilmuan dan kedudukannya dalam khazanah pencak silat Nusantara.



Selain buku, delegasi juga menyerahkan batik karya warga Winongo, Kota Madiun, sebagai kenang-kenangan. Batik ini menjadi penanda bahwa yang dibawa PSHWTM ke Belanda bukan hanya pencak silat, tetapi juga karya budaya dari lingkungan tempat perguruan ini tumbuh.



Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mendorong peningkatan visibilitas pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia di tingkat internasional, sekaligus menggalang dukungan global agar pencak silat dapat menjadi cabang olahraga Olimpiade, aspirasi yang juga ditegaskan Presiden Prabowo Subianto.



"Kita memiliki aspirasi bersama agar Pencak Silat dapat menjadi bagian dari Olimpiade," ujar Fadli Zon, 


Menbud juga mengingatkan bahwa Kementerian Kebudayaan telah mencatat 3.277 elemen Warisan Budaya Takbenda Indonesia, termasuk tradisi pencak silat yang diinskripsi UNESCO dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2019. 



Ia menilai Belanda memiliki peran penting sebagai jembatan pengembangan pencak silat di Eropa, serta mengapresiasi NPSF yang kini menaungi sekitar 50 perguruan dengan lebih dari 700 praktisi terdaftar. Keterlibatan komunitas lokal tersebut, menurutnya, menunjukkan kuatnya peran hubungan antarmasyarakat dalam diplomasi budaya.



Dukungan Kemenbud, MIND ID, dan Pemkab Madiun


Keberangkatan delegasi Madiun memperoleh dukungan utama dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesia Raya, dana abadi kebudayaan yang diarahkan untuk memperluas kesempatan bagi pelaku dan komunitas budaya Indonesia. Dana ini menjadi tulang punggung partisipasi Indonesia dalam festival.



Dukungan tambahan datang dari MIND ID (Mining Industry Indonesia), Holding BUMN Industri Pertambangan Indonesia. Dukungan MIND ID memungkinkan delegasi Madiun tampil dengan komposisi pertunjukan yang lebih lengkap, sehingga ragam peragaan dari jurus solo hingga permainan senjata dapat dihadirkan secara utuh di hadapan publik Eropa. Bagi sanggar yang tumbuh dari latihan di tingkat kampung, dukungan dari BUMN strategis ini menjadi penopang penting agar pencak silat Madiun tidak hanya hadir, tetapi tampil maksimal sebagai seni pertunjukan.



Pemerintah Kabupaten Madiun turut memberikan dukungan bagi keberangkatan Sanggar Satria Krida Manggala, sejalan dengan identitas daerah sebagai Kampung Pesilat.



Dari Caruban ke Amersfoort


Ketua Sanggar Satria Krida Manggala, Bayu Supriyanto, yang juga tampil sebagai pesilat dalam festival ini, menyebut undangan ke Belanda sebagai bentuk kepercayaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. 



"Kami ini anak-anak desa dari Caruban. Dulu bisa tampil di panggung kabupaten, Madiun, atau di Surabaya saja sudah kami syukuri. Sekarang kami diminta membawa pencak silat Madiun ke Belanda,"  Kata Bayu.


"Ini seperti mimpi siang bolong yang benar-benar harus kami syukuri dan maksimalkan selama di sana. Kami akan berjuang keras untuk memberikan yang terbaik untuk PSHWTM dan Madiun."ungkapnya.



Ketua Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso, Iwan Budi Prasetiya, menegaskan bahwa langkah ini merupakan kesinambungan dari penampilan PSHWTM di forum internasional sebelumnya. Pada 2024, PSHWTM melalui Sanggar Sugeng Santoso tampil memenuhi undangan Universitas Sarajevo dalam pergelaran seni budaya di Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.



"Setelah Sarajevo pada 2024, Amersfoort menjadi kesempatan berikutnya bagi kami untuk memperkenalkan PSHWTM, sebagai lanjutan syiar PSHWTM di Benua Biru Eropa. Dua sanggar dari Kota dan Kabupaten Madiun berangkat sebagai satu delegasi, dan itu yang membuat langkah ini terasa bermakna," ujarnya.



Bupati Madiun Hari Wuryanto menyambut keberangkatan delegasi sebagai kebanggaan daerah.



"Ini kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Madiun. Sanggar Satria Krida Manggala berangkat ke Belanda membawa nama daerah kami, dan itu sejalan dengan identitas yang kami pegang, Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat. Ketika wakil kami tampil di Eropa, sebutan itu terbukti bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang benar-benar hidup di tengah masyarakat kami," kata Hari Wuryanto.



Presiden NPSF Olivier Blancquaert menjelaskan alasan pihaknya mengundang delegasi dari Indonesia.



"Selama ini para pesilat dari Eropa yang datang ke Indonesia, berlatih pencak silat sambil berlibur. Kali ini kami membalik keadaannya. Kelompok-kelompok pencak silat dari Indonesia yang datang ke Belanda, mengisi akhir pekan istimewa dengan lokakarya, peragaan, dan kelas khusus bersama para guru," ujarnya.



Joened Agung Sumarwan, yang memimpin tim PSHWTM dan Harimau Singgalang sekaligus mengoordinasikan seluruh delegasi Indonesia, menilai keragaman aliran justru menjadi kekuatan utama.



"Yang berangkat kali ini bukan satu perguruan, melainkan beberapa aliran dari daerah yang berbeda. Harimau Singgalang dari Sumatera Barat, Panglipur dari Jawa Barat, dan Mataraman dari Madiun. Perbedaan itu justru yang ingin kami tunjukkan, bahwa pencak silat Indonesia kaya karena tumbuh dari banyak akar," katanya.



Kampung Pesilat Menembus Panggung Dunia



Madiun dikenal luas sebagai Kampung Pesilat. Di wilayah ini berdiri 14 perguruan pencak silat besar dengan anggota mencapai jutaan orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan sebagian menjangkau mancanegara. Pencak silat di Madiun bukan sekadar olahraga atau kesenian, melainkan bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Bagi Madiun dan Jawa Timur.



Penampilan di Amersfoort membuka beberapa peluang sekaligus  pengakuan atas kualitas pembinaan pencak silat di tingkat sanggar, terbukanya jalur kerja sama budaya jangka panjang dengan komunitas pencak silat di Belanda dan Eropa, serta kesempatan memperkenalkan Madiun sebagai destinasi budaya kepada publik internasional.



Harapan itu sejalan dengan pesan Menteri Kebudayaan, yang ingin festival perdana ini berkembang menjadi wadah kerja sama berkelanjutan antara komunitas pencak silat Indonesia dan Belanda.

Tentang Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Madiun.



PSHWTM adalah perguruan pencak silat yang berpusat di Madiun, Jawa Timur, dengan anggota tercatat (nomor induk) sekitar 1,7 juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia dan sejumlah negara lain. Perguruan ini merawat keilmuan Setia Hati secara utuh sebagaimana diajarkan Ki Ngabehi Soerodiwiryo atau Eyang Suro, pendiri aliran Setia Hati pada 1903. Eyang Suro dikenal menghimpun jurus dari berbagai daerah Nusantara dalam perjalanan panjangnya, termasuk dari ranah Minangkabau dan tanah Sunda. Karena itu, pertemuan PSHWTM dengan Harimau Singgalang dan Panglipur di Amersfoort memiliki makna tersendiri: akar-akar yang seabad lalu bertemu dalam laku seorang pendekar kini kembali bertemu di panggung Eropa.



Keilmuan PSHWTM dirawat melalui Padepokan PSHWTM serta Ranting dan Subranting yang memiliki sanggar-sanggar binaan di sejumlah kota dan kabupaten di Indonesia, masing-masing dengan warna garapan sendiri namun tetap berpijak pada pakem gerak dan nilai yang sama.

Tentang Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF).



NPSF adalah federasi resmi pencak silat nasional di Belanda yang menaungi lebih dari 50 perguruan dan lebih dari 700 praktisi, serta merupakan anggota NOC*NSF. NPSF berkomitmen melestarikan dan mengembangkan pencak silat di Eropa melalui pendidikan, pertukaran budaya, festival, seminar, dan kerja sama kelembagaan. ( Red).

Post a Comment

أحدث أقدم